Senin, 18 Agustus 2025

PKKMB UNIVERSITAS PAT PETULAI 2025 RESMI DIBUKA

 


Curup, 19 Agustus 2025 – Universitas Pat Petulai (UPP) secara resmi membuka kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun 2025 pada hari Selasa, 19 Agustus 2025. Acara pembukaan dipimpin langsung oleh Rektor Universitas Pat Petulai, Dr. Rahiman Dani, M.A bertempat di Aula Kampus UPP.


Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Kepala BAAK, Kasubbag Kemahasiswaan, Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni STIPER UPP, Dekan Fakultas Teknik, Ketua Program Studi Ilmu Komputer, Ketua Program Studi Sains Perkopian, serta Ketua Program Studi Akuntansi. Selain itu, kegiatan ini juga mendapatkan dukungan penuh dari seluruh organisasi mahasiswa (Ormawa) Universitas Pat Petulai.

Tahun 2025 ini, PKKMB diikuti oleh 103 mahasiswa baru yang berasal dari program studi Agroteknologi, Agribisnis, Ilmu Komputer, Sains Perkopian, dan Akuntansi. Kegiatan akan berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 19 hingga 21 Agustus 2025, dengan mengusung tema:

“Gaskeun: Giatkan Aksi Sukseskan Kampus Energi Unggul Nasionalis.”


Dalam sambutannya, Rektor Dr. Rahiman Dani, M.A menegaskan bahwa pendidikan adalah jembatan kesuksesan di masa yang akan datang. Dengan latar belakang kampus berbasis entrepreneurship, UPP berkomitmen mencetak generasi yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menyongsong hadirnya generasi emas Indonesia.

Kegiatan PKKMB ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana pengenalan dunia perkuliahan, tetapi juga wadah pembentukan karakter, jiwa kepemimpinan, organisasi, dan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh Universitas Pat Petulai serta semangat kebersamaan di kalangan mahasiswa baru Universitas Pat Petulai.


Kamis, 14 Agustus 2025

Pengukuhan Pengurus IKASUP Berlangsung Meriah, Semarak Dies Natalis UPP ke-6 dan Sambut HUT RI ke-80



Rejang Lebong, 10 Agustus 2025 — Suasana penuh kebersamaan dan semangat persaudaraan mewarnai acara Pengukuhan Pengurus Ikatan Keluarga Alumni STIPER Universitas Pat Petulai (IKASUP) yang digelar pada Minggu, 10 Agustus 2025. Acara ini menjadi momentum penting bagi para alumni untuk memperkuat sinergi dalam membangun almamater tercinta.


Pengukuhan pengurus IKASUP periode 2025–2028 ini juga dirangkaikan dengan peringatan Dies Natalis Universitas Pat Petulai (UPP) ke-6 serta menyambut Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-80. Rangkaian kegiatan berlangsung meriah dengan berbagai agenda kebersamaan yang diikuti oleh alumni, sivitas akademika, dan masyarakat.


Ketua Umum IKASUP terpilih Yogi Khoirul F, S.Kom didampingi oleh Waketum Jerry Pratawardila, S.P, Sekretaris umum Topan Irawan S.P, dan Bidang Data Alumni Redi Ternando, S.Kom, menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan seluruh alumni dan berkomitmen menjadikan IKASUP sebagai wadah silaturahmi, kolaborasi, serta kontribusi nyata bagi almamater dan pembangunan daerah.

Rektor UPP dalam kesempatan yang sama mengapresiasi kehadiran para alumni yang tetap menjaga hubungan erat dengan kampus. Ia berharap, semangat kebersamaan ini dapat menjadi kekuatan untuk membawa Universitas Pat Petulai semakin maju dan berprestasi di tingkat nasional.

Dengan semangat Dies Natalis dan HUT RI ke-80, acara pengukuhan ini menjadi simbol persatuan dan tekad bersama untuk membangun masa depan yang lebih baik, baik bagi IKASUP, UPP, maupun bangsa Indonesia.


Pemerintah Desa Bengko Gelar Karnaval Kemerdekaan & Kebudayaan untuk Memeriahkan HUT RI ke-80



Bengko, 14 Agustus 2025 – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-80, Pemerintah Desa Bengko, Kecamatan Sindang Dataran, Kabupaten Rejang Lebong, akan menggelar Karnaval Kemerdekaan & Kebudayaan pada Selasa, 19 Agustus 2025, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Karnaval ini akan mengambil titik start di Dusun 4 Talang Tengah dan finish di Lapangan Kantor Camat (Dusun 1).


Ratusan peserta yang terdiri dari warga desa, pelajar, komunitas seni, hingga kelompok budaya akan menampilkan beragam kostum, atraksi tradisional, dan kreativitas yang mencerminkan kekayaan budaya Nusantara.

Bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting bagi warga untuk memperkuat persatuan sekaligus melestarikan budaya daerah. Karnaval ini bukan sekadar hiburan, melainkan wadah untuk menumbuhkan rasa bangga, mempererat silaturahmi, dan mengenang jasa pahlawan.

Semangat kemerdekaan harus terus hidup di hati setiap warga. Pemerintah Desa Bengko mengajak seluruh masyarakat Bengko dan sekitarnya untuk hadir dan ikut menyukseskan acara ini, baik sebagai peserta maupun penonton.

Mari kita rayakan kemerdekaan dengan penuh kegembiraan dan kekompakan. Jadikan karnaval ini sebagai panggung bagi kreativitas dan kebersamaan.


Karnaval ini merupakan agenda tahunan yang diinisiasi oleh Pemerintah Desa Bengko sebagai rangkaian perayaan HUT RI. Kegiatan ini selalu mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat dan menjadi ajang pelestarian budaya, promosi pariwisata desa, serta penguatan rasa cinta tanah air.

Selasa, 01 Juli 2025

PKC PMII Provinsi Bengkulu Gelar Aksi di Kantor Dispora, Tuntut Transparansi Dana Hibah Rp 300 Juta

 



Bengkulu – Senin, 30 Juni 2025

Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Provinsi Bengkulu menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Bengkulu. Aksi ini digelar sebagai bentuk protes dan tuntutan terhadap transparansi dana hibah yang disebut-sebut diberikan kepada PMII pada tahun anggaran 2023.


Massa aksi membawa bendera organisasi serta spanduk bertuliskan sejumlah tuntutan. Mereka mendesak pihak Dispora Provinsi Bengkulu untuk membuka informasi secara transparan terkait dana hibah sebesar Rp 300 juta yang tercantum dalam daftar penerima hibah Pemprov Bengkulu tahun 2023 dan sempat viral di media sosial.


Menurut Sanddya, salah satu perwakilan massa aksi, dana hibah tersebut tidak pernah tercatat dalam Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) internal PKC PMII Provinsi Bengkulu. Bahkan, pengurus masa khidmat sebelumnya tidak pernah menyampaikan adanya penerimaan hibah dari Dispora maupun pihak lain. Proses pengajuan, realisasi, hingga pelaporan dana hibah ini tidak diketahui oleh Badan Pengurus Harian (BPH), seperti Sekretaris, Bendahara, Ketua Kopri, maupun Ketua I hingga Ketua III.


Mereka juga menuntut klarifikasi atas dugaan adanya praktik "bagi-bagi uang" atau fee dalam proses pencairan dana hibah, sebagaimana pernyataan lisan Ketua PKC PMII Provinsi Bengkulu periode 2021–2023.


Selain itu, massa aksi meminta Dispora Provinsi Bengkulu segera membuka dan menyerahkan salinan dokumen sebagai bentuk pertanggungjawaban publik, antara lain:


* Salinan proposal pengajuan hibah tahun 2023.

* Salinan DPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran).

* Salinan kontrak pelaksanaan atau Naskah Perjanjian Hibah Daerah.

* Salinan Laporan Realisasi Anggaran (LRA).


Tak hanya itu, PKC PMII juga meminta Kepala Inspektorat Provinsi Bengkulu dan BPK Perwakilan Bengkulu untuk segera melakukan uji petik atau audit ulang terhadap dana hibah tersebut. Mereka menilai ada indikasi fiktif dalam proses perencanaan, pelaksanaan, hingga pelaporan dana hibah senilai Rp 300 juta itu.


Aksi ini berlangsung damai dan mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Massa aksi menyatakan akan terus mengawal isu ini hingga adanya transparansi dan kejelasan dari pihak-pihak terkait.

Selasa, 24 Juni 2025

Mahasiswa Universitas Pat Petulai Gelar Bazar Kewirausahaan Angkat Produk Lokal Rejang Lebong



Dalam rangka menumbuhkan semangat berwirausaha di kalangan mahasiswa, Universitas Pat Petulai (UPP) menggelar kegiatan *Bazar Kewirausahaan* yang dilaksanakan selama tiga hari, mulai tanggal *24 hingga 26 Juni 2025*. Kegiatan ini berlangsung di halaman depan Kampus UPP dan melibatkan seluruh mahasiswa dari lima program studi, yaitu *Agroteknologi, Agribisnis, Ilmu Komputer, Sains Perkopian, dan Akuntansi*.

Bazar ini menjadi ajang bagi mahasiswa untuk menampilkan kreativitas dan kemampuan kewirausahaan mereka melalui berbagai produk olahan makanan dan minuman khas, berbasis kearifan lokal Kabupaten Rejang Lebong.

Salah satu peserta bazar, *Zahra Febriani*, mahasiswi Program Studi Agribisnis, menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berkreasi sekaligus memperkenalkan potensi lokal kepada masyarakat luas.

> “Berbagai produk olahan makanan yang kami sajikan mengangkat kearifan lokal Rejang Lebong. Ini bentuk kontribusi kami untuk memajukan ekonomi kreatif daerah,” ujar Zahra.

Kegiatan ini selaras dengan *slogan Universitas Pat Petulai sebagai Kampus Kewirausahaan*, yang tidak hanya mencetak lulusan akademis, tetapi juga calon-calon wirausahawan muda yang kreatif, inovatif, dan mandiri.

Dengan lingkungan kampus yang hijau dan kondusif, Universitas Pat Petulai terus berkomitmen menciptakan ruang-ruang pembelajaran yang terintegrasi dengan praktik nyata, salah satunya melalui kegiatan bazar kewirausahaan ini.

Rabu, 18 Juni 2025

Universitas Pat Petulai Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2025–2026


Universitas Pat Petulai (UPP) secara resmi mengumumkan pembukaan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) untuk Tahun Akademik 2025–2026. Dengan mengusung tema “Jadilah Bagian dari Masa Depan Cerah Bersama UPP”, kampus yang telah terakreditasi "Baik" ini membuka pendaftaran mulai dari 1 Maret hingga 31 Juli 2025.

PMB ini ditujukan bagi lulusan SLTA/sederajat dari seluruh Indonesia yang ingin melanjutkan studi di perguruan tinggi berbasis pengembangan IPTEK dan nilai-nilai kebangsaan.

Syarat Pendaftaran meliputi:

1. Fotokopi ijazah SLTA/sederajat
2. Fotokopi KTP
3. Fotokopi KK
4. Pas foto ukuran 3x4 (2 lembar)
5. Sertifikat pendukung (jika ada)
6. Mengisi formulir pendaftaran
7. Membayar biaya pendaftaran sebesar Rp150.000,-

Bagi calon mahasiswa yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut, panitia menyediakan layanan konsultasi dan pendaftaran melalui dua narahubung utama, yaitu Yufi (0852-0856-6565) dan Reno (0813-7772-4777). Calon pendaftar juga dapat mengakses informasi resmi di situs www.upprl.ac.id

Universitas Pat Petulai menegaskan komitmennya dalam mencetak generasi unggul yang siap bersaing di era digital dan global, melalui program studi yang didukung oleh akreditasi BAN-PT, LAMEMBA, dan sistem pelayanan digital terpadu.

Jangan lewatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Universitas Pat Petulai – kampus masa depan anak negeri.

Senin, 16 Juni 2025

KORSP PMII PUTRI BERSUARA KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK KIAN MENCUAT

Korps PMII Putri Komisariat Al-Fatih Universitas Pat Petulai bersuara terkait permasalahan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang kian mencuat.

Plt. Ketua Kopri PMII komisariat Al-Fatih Universitas Pat Petulai (Sulastri Nengseh) menyampaikan bahwa Kekerasan terhadap perempuan dan anak kini menjadi momok yang menakutkan di tengah masyarakat. Setiap hari, berita tentang pelecehan, pemukulan, bahkan pembunuhan terhadap perempuan dan anak terus bermunculan di media. Realitas ini mencerminkan bahwa mereka yang seharusnya mendapat perlindungan justru menjadi korban dari lingkungannya sendiri.

Mirisnya, pelaku kekerasan sering kali bukan orang asing, melainkan orang terdekat. Suami, ayah, saudara, bahkan tetangga kerap kali menjadi pelaku utama dalam lingkaran kekerasan ini. Hal ini menambah beban trauma bagi korban yang merasa dikhianati oleh sosok yang semestinya menjadi pelindung.

Di Kabupaten Rejang Lebong, fenomena ini bukan lagi hal yang tersembunyi. Kasus demi kasus terus mencuat ke permukaan. Data dari instansi terkait menunjukkan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak yang masih tinggi setiap tahunnya, dengan tren yang cenderung meningkat secara diam-diam.

Namun, angka-angka itu hanyalah puncak gunung es. Banyak korban yang memilih diam karena takut, malu, atau karena tekanan dari keluarga dan masyarakat. Budaya patriarki yang masih kuat menjadikan suara perempuan sering kali diredam, bahkan ketika mereka menjadi korban kekerasan.

Ironisnya, kekerasan ini terjadi bukan hanya di lingkungan rumah tangga, tetapi juga di institusi pendidikan, tempat kerja, dan ruang publik. Perempuan dan anak-anak menjadi sasaran empuk karena dianggap lemah dan tidak punya daya lawan.

Ketika korban memberanikan diri untuk melapor, proses hukum pun kerap tidak berpihak pada mereka. Pendekatan yang lamban, pertanyaan yang menyudutkan, hingga tuntutan hukum yang ringan terhadap pelaku menjadikan korban semakin enggan mencari keadilan.

Lembaga perlindungan memang telah dibentuk, seperti Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak, namun keberadaan lembaga ini belum sepenuhnya menjangkau masyarakat akar rumput. Edukasi yang minim, layanan terbatas, dan stigma sosial membuat korban tetap terisolasi dalam ketakutan.

Salah satu faktor yang memperparah keadaan adalah penyelesaian kasus melalui jalur kekeluargaan atau adat. Tidak jarang, keluarga korban diminta untuk ‘damai’ demi menjaga nama baik, tanpa memperhitungkan dampak psikologis yang diderita oleh korban.

Sementara itu, anak-anak yang menjadi korban kekerasan mengalami luka yang tak terlihat. Mereka tumbuh dalam trauma, dengan luka batin yang mungkin tak akan pernah sembuh. Banyak dari mereka yang akhirnya kehilangan masa depan karena kekerasan yang mereka alami sejak dini.

Perempuan dewasa yang menjadi korban KDRT atau kekerasan seksual pun tak luput dari stigma. Alih-alih mendapat dukungan, mereka kerap disalahkan atau dianggap sebagai penyebab kekerasan itu sendiri. Ini adalah bentuk kekerasan kultural yang sama membahayakannya.

Di desa-desa, kekerasan kerap dibungkus dalam dalih pendidikan, adat, atau kewajaran dalam rumah tangga. Bentakan, cubitan, pukulan, bahkan pemaksaan hubungan seksual dalam pernikahan masih dianggap normal oleh sebagian masyarakat.

Media sosial memperlihatkan realitas yang menyakitkan: video kekerasan yang tersebar, komentar yang menyudutkan korban, dan sikap acuh tak acuh dari warganet. Dunia maya yang seharusnya menjadi tempat menyuarakan keadilan malah menjadi ladang penghakiman terhadap korban.

Untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, tidak cukup hanya dengan membentuk lembaga atau mengesahkan undang-undang. Dibutuhkan revolusi budaya yang menempatkan perempuan dan anak sebagai subjek yang setara dan bermartabat dalam masyarakat.

Masyarakat harus dididik untuk tidak menoleransi kekerasan dalam bentuk apapun. Sekolah, tempat ibadah, dan media harus menjadi ruang edukasi untuk membangun kesadaran akan pentingnya perlindungan terhadap kelompok rentan ini.

Kini saatnya kita semua, tanpa terkecuali, mengambil peran. Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan hanya masalah mereka, tapi cermin dari wajah kita sebagai masyarakat. Jika kita diam, maka kita turut menjadi bagian dari sistem yang menindas dan melukai mereka yang paling membutuhkan perlindungan.

PKKMB UNIVERSITAS PAT PETULAI 2025 RESMI DIBUKA

  Curup, 19 Agustus 2025 – Universitas Pat Petulai (UPP) secara resmi membuka kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Ta...